Keluarga Dalam Membentuk Karakter Anak

Dear Sobat,
Sum3a.com. Di era modern ini, sudah sering kita jumpai maraknya kenakalan anak, baik melalui televisi, radio dan media sosial. Kenakalan anak yang terjadi saat ini sangat beragam, ada anak yang suka membolos sekolah lalu pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang, ada anak yang suka mencoret-coret dinding sekolah dengan gambar yang tidak sepantasnya ditampilkan di depan publik, bahkan ada pula anak zaman sekarang yang sudah mulai berani membentak gurunya sendiri.
Photoright: Netralitas.com
Kalau kita pikirkan bersama, apakah faktor penyebab kenakalan anak ini bisa terjadi? Mungkin kenakalan ini bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal kenakalan anak dapat dipicu oleh kurangnya kasih sayang dari orang terdekat anak tersebut, sedangkan faktor eksternal kenakalan anak dapat dipicu oleh kesalahan anak dalam menentukan teman bermainnya dan pengaruh negatif lingkungannya.
Keadaan anak yang mengkhawatirkan ini harus cepat tanggap untuk ditanggulangi. Siapakah aktor utama yang berperan vital dalam menanggulangi permasalahan ini? Keluarga. Prof. Suyanto dalam bukunya “Pendidikan Karakter Teori & Apllikasi” menyatakan bahwa keluarga merupakan basis utama dalam pendidikan karakter anak.
Kita sadari bahwa memang keluarga merupakan lingkungan pertama yang kita rasakan saat berada di dunia ini. Bagi seorang anak, keluarga adalah tempat utama dan pertama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Keluarga berfungsi sebagai sarana mengasuh, mendidik dan mensosialkan anak untuk mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar mampu menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan sehat guna tercapai keluarga sejahtera.
Kegagalan dalam mendidik dan mengasuh anak di lingkungan keluarga akan berdampak pada sulitnya bagi institusi lain untuk memperbaiki anak tersebut. Selain itu, kegagalan keluarga dalam upaya membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter baik. Oleh karena itu, karakter bangsa sangat tergantung pada bagaimana pendidikan karakter anak di rumah.
Dalam proses membentuk karakter anak, diperlukan 3 kebutuhan dasar anak dalam keluarga; kedekatan psikologis anak dengan orang tua, mendapatkan rasa aman dan stimulasi fisik serta mental. Selanjutnya, keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai karakter kepada anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat merupakan hal yang harus diberikan oleh orang tua kepada dalam membentuk karakter anak.
Kita semua dapat mengetahui pola asuh apa yang digunakan oleh orang tua dalam mendidik anaknya melalui ciri-ciri pola asuh berikut ini:
1.  Pola asuh otoriter, ciri-cirinya: a) Kekuasaan orang tua bersifat dominan; b) Anak tidak diakui secara pribadi; c) Kontrol tingkah laku anak sangat ketat; d) Orang tua akan menghukum anak jika ia tidak patuh.
2.  Pola asuh demokratis, ciri-cirinya: a) Terjalin kerja sama antara orang tua dan anak; b) secara pribadi anak diakui; c) Orang tua memberi bimbingan dan pengarahan kepada anak; d) Kontrol orang tua tidak mengekang anak.
3.  Pola asuh permisif, ciri-cirinya: a) Kekuasaan tergantung pada anak itu sendiri; b) Orang tua memberi kebebasan dalam pengawasan; c) Orang tua tidak memberi bimbingan dan pengarahan; d) Kontrol orang tua sangat lemah dan kurang.
Perkembangan karakter anak ternyata juga dipengaruhi oleh bagaimana pengalaman masa kecil anak. Pola asuh orang tua yang menerima atau yang menolak kehadiran anaknya, akan sangat berhubungan dengan perkembangan emosi, perilaku, sosial-kognitif, dan kesehatan psikologisnya ketika anak beranjak dewasa nanti.
Sobat, ikuti terus perkembangan selanjutnya ya…. 
Kastolani
Kastolani

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar