Pentingnya Membangun Kepercayaan antara Ibu dan Balita

Mendapatkan keturunan yang baik sudah menjadi keinginan secara umum dari suatu pernikahan antara dua insan, pria dan wanita. Memiliki momongan layaknya menjadi suatu kebanggaan dan kegembiraan tersendiri bagi para orangtua. Oleh karena itu, segala macam persiapan pun dilakukan oleh orangtua guna menyambut kedatangannya.
Ketika kehadiran anak yang ditunggu-tunggu telah tiba, anak ini bak menjadi mutiara yang selau ingin dijaga keberadaannya, terlebih bagi ibu dari sang anak. Serasa hari-hari yang akan dilewati itu ingin selalu bersamanya. Banyak orangtua yang berhasil merawat dan menjaga anaknya hingga ia tumbuh menjadi balita, namun tidak sedikit pula orangtua yang gagal dalam membina dan mendidik anak tersebut.
Pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas menjadi salah satu faktor keberhasilan orangtua dalam mengayomi anaknya hingga tumbuh menjadi balita yang baik. Sangat disayangkan memang, di kala anak tumbuh tanpa adanya perhatian ekstra dari orangtuanya, hingga anak tersebut bingung harus kemana mencari tempat berlindung yang aman bagi dirinya.
Kedekatan emosional dan kontak fisik antara ibu dan balita harus dibangun dengan baik. Hal ini dilakukan agar terjadi hubungan yang harmonis di antara keduanya. Akan sangat berbahaya jika kedekatan diatas tidak terjalin, karena dapat mengurangi rasa kepercayaan balita terhadap sang ibu.
Saat anak tumbuh menjadi balita, memang disadari balita itu sering mengoceh ini dan itu, dan terkadang terasa bosan pula di kala mendengarkannya asik mengoceh. Hal sepele seperti ini hendaknya tidak diabaikan oleh orangtua, karena di sini balita sedang mencari perhatian dari orang-orang yang berada di dekatya. Memperhatikan pembicaraannya akan membangun hubungan yang baik di antara kedua belah pihak.
Menghadapkan tubuh balita kepada orangtua saat ia berbicara pun perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk menjalin kontak mata agar sang balita lebih mengenali orangtuanya secara fisik. Selain itu, sang balita pun akan merasa pembicaraan yang ia ungkapkan itu diperhatikan, hingga ia pun senang sumringah dan menambah rasa percayanya kepada orangtua.
Hal yang tidak kalah penting lainnya adalah orangtua memberikan respon terhadap apa yang dibicarakan oleh sang balita, meskipun itu sebenarnya kurang mengerti atas pembicaraan yang dia maksud. Namun ada kalanya pula orangtua bertindak sebagai pembicara ketika sang balita sudah mulai bingung dengan apa yang akan ia bicarakan. Orangtua bisa memberikan kepadanya dongeng-dongeng maupun cerita yang sesuai dengan minat serta umurnya.
Terkadang sang balita tidak bisa selalu dalam kondisi mendengarkan secara utuh atas apa yang dibicarakan oleh orangtua, sehingga ia meminta pengulangan. Maka hendaknya orangtua tidak bosan-bosannya memberikan pengulangan atas pembicaraannya.
Melihat realita yang ada, sangat disadari bahwa waktu kebersamaan ibu dan balita lebih banyak dibandingkan dengan ayah dengan balita. Ayah memang lebih sering bermain di belakang layar sang balita, mungkin karena ayah sibuk mengejar pekerjaan yang harus dikerjakan agar selalu dapat memenuhi kebutuhan sang ibu dan balita. Maka peran ibu adalah memberikan penjelasan kepada si balita agar dia dapat memahaminya.
Kesalahan-kesalahan kecil dalam pengasuhan balita hendaknya diperhatikan, karena dari hal-hal kecil ini, sedikit demi sedikit mampu mempengaruhi si balita. Berikut ini adalah contoh kesalahan orangtua dalam mengasuh anaknya:
1.      Terlalu banyak menonton tv dibandingkan melakukan pengawasan kepada balita.
2.      Cara meluruskan kesalahan yang diperbuat anak dengan membentak.
3.      Gagal menjadi pendengar yang baik bagi sang balita.
4.      Orangtua bertengkar di hadapan balita.
5.      Lebih sibuk mengurus diri sendiri.
6.      Mengukur segalanya dengan materi.
Kastolani
Kastolani

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar